Thinkegghead

Author name: thinkegghead

Uncategorized

11 Langkah Menyusun Brand Strategi yang Tepat

11 Langkah Menyusun Brand Strategi yang Tepat December 11, 2025 3 min Menjadi sebuah brand yang top of mind dan meraih popularitas tentunya memerlukan upaya yang tidak mudah, terlebih di tengah banyaknya persaingan. Di balik kesuksesan sebuah brand, pastinya diperlukan sebuah pondasi yang kuat agar tercapainya tujuan brand yang diinginkan. Perencanaan tersebut terdiri dari berbagai macam strategi yang sebuah brand dapat lakukan, hal ini dikenal dengan brand strategy. Namun sebelum memasuki tahap brand strategy, ada baiknya untuk mengawali dengan pemahaman terhadap branding itu sendiri dan melakukan brand audit terlebih dahulu. Setelah melalui tahapan brand audit dan menerima hasilnya, berikut panduan dalam menyusun brand strategy.   Panduan dalam Menyusun Brand Strategy Menyusun strategi untuk sebuah brand merupakan langkah selanjutnya setelah melakukan tahap brand audit. Langkah ini bertujuan untuk mengetahui arahan yang tepat bagi sebuah brand agar kuat bersaing di pasar. Brand EssenceMenempatkan the heart and soul of your brand ke dalam kata-kata. Brand essence ini adalah ide utama dari gambaran keseluruhan yang ingin dibangun oleh sebuah brand. Sebagai tumpuan, brand essence sangatlah krusial untuk menentukan arah dari bisnis secara menyeluruh. Sebagai contoh, McDonald’s memiliki brand essence “Happiness” yang terlihat dari implementasi brand. Brand PromiseIni adalah janji yang harus disampaikan oleh sebuah brand kepada konsumen. Biasanya brand promise menyampaikan manfaat brand dari sisi emosional maupun fungsional sebagaimana diharapkan oleh konsumen. Singkatnya, apa saja yang konsumen akan dapatkan ketika membeli produk atau jasa brand-mu? Ketika membeli iPhone, kita bukan sekedar membawa pulang sebuah smartphone, tapi juga mendapatkan inovasi terbaru, kemudahan, beserta prestige yang dijanjikan oleh brand Apple.  Brand ArchetypeLayaknya manusia, brand juga memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Salah satu cara untuk menentukan kepribadian tersebut adalah dengan sistem yang dinamakan brand archetype. Masing-masing kepribadian dari brand archetype memiliki tujuan, fear, dan motivasi yang unik dan berbeda satu sama lainnya. Brand archetype membuat brand terlihat manusiawi sehingga dapat membangun koneksi yang lebih kuat dengan konsumen. Brand ValueSetiap manusia memiliki nilai hidup. Hal ini serupa dengan sebuah brand dimana seluruh ekosistem yang bernaung harus menghidupi nilai yang dipegang oleh brand tersebut. Bagaikan arah mata angin Utara pada kompas, brand value tidak akan berubah dan memastikan brand untuk berjalan ke arah yang tepat. Brand PersonalityBayangkan bila brand yang kamu miliki berwujud seperti manusia. Orang seperti apakah dia? Karakteristik apa yang akan ia miliki? Dari value yang telah ditentukan sebelumnya, kira-kira seperti apa kepribadiannya? Sebagai gambaran, bila brand Apple dan Microsoft merupakan manusia maka siapakah yang akan kamu pilih untuk menemani keseharianmu? Kedua brand tentunya memiliki personality yang sangat berbeda, begitu pula dengan brand-mu. Brand PerceptionKetika konsumen melihat sebuah brand, maka akan ada suatu persepsi yang terbentuk. Persepsi inilah yang pada akhirnya membuat konsumen merasa brand tersebut merepresentasikan dirinya. Setelah menentukan brand personality dan archetype, saatnya membangun brand perception sehingga konsumen memiliki persepsi yang tepat terhadap brand milikmu. Brand VoiceBukan hanya kepribadian, sebuah brand juga harus memiliki suaranya tersendiri agar dapat mendiferensiasikan dirinya dari kompetitor dengan mudah. Sederhananya, brand voice adalah cara menyampaikan brand message dengan gaya komunikasi yang konsisten dan selaras dengan kepribadian brand. Disinilah terjadinya proses pemilihan kata yang mengekspresikan sikap dan nilai dari sebuah brand ketika menangani konsumen. Brand TaglineTagline atau slogan merupakan suatu komitmen dari sebuah brand yang dapat mengkomunikasikan dan meyakinkan unique selling proposition nya pada konsumen. Brand TouchpointDidefinisikan sebagai titik bertemunya sebuah brand dengan konsumen. Pemahaman konsep ini akan membantu dalam memaksimalkan experience dari consumer journey pada setiap brand stage: pre-purchase, purchase, dan post-purchase. Brand PositioningDi tengah maraknya persaingan, posisi yang tepat merupakan kunci agar dapat unggul dari para kompetitor. Brand positioning dapat ditentukan dari rumusan What, How, Who, Where, Why, When (5W1H) yang didasari oleh kemampuan brand dalam bersaing, serta hasil riset dan analisis internal, ekspektasi target market, dan juga kompetitor. Brand ArchitectureMerupakan kerangka dasar sebuah brand yang dapat membantu perkembangan bisnis di masa depan. Penyusunan strategi arsitektur yang tepat akan memaksimalkan brand equity serta menargetkan konsumen dalam segmen pasar yang lebih spesifik. Berikut beberapa contoh brand architecture:– Branded House = FedEx– Sub-Brand = Apple– Endorsed Brand = Marriot Group– House of Brands = Unilever Sebuah strategi brand yang komprehensif tentunya tidak dapat diciptakan hanya dalam sehari saja. Strategi yang terdefinisi dengan jelas dan tepat sesuai target pasar akan mempengaruhi seluruh aspek bisnis. Pondasi brand yang kuat secara langsung akan membantu brand dalam membangun kredibilitas, serta kesetiaan para konsumen dengan mudah.     Mau tahu lebih banyak soal brand audit atau mungkin soal branding? Langsung aja follow Instagram & TikTok kami untuk daily tips branding and business! Related post 11 Langkah Menyusun Brand Strategi yang Tepat Efek IKEA dan Pengaruhnya untuk Bisnismu Memilih Rencana Implementasi Brand yang Sesuai

Uncategorized

Efek IKEA dan Pengaruhnya untuk Bisnismu

Efek IKEA dan Pengaruhnya untuk Bisnismu December 11, 2025 3 min Kemudahan dalam menggunakan produk dan layanan merupakan salah satu daya jual yang sering kali ditawarkan oleh setiap perusahaan atau brand besar. Tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi perusahaan furnitur raksasa asal Swedia, IKEA. Keberhasilan IKEA sampai saat ini didukung oleh usahanya dalam “merepotkan” konsumennya.   Taktik IKEA dalam memanfaatkan konsumennya baru dimulai sekitar tahun 1950 dengan cara menjual flat-pack furniture atau produk-produk yang dapat dibongkar pasang dan dirakit sendiri.   Ternyata, konsep merakit sendiri tersebut berhasil diterima dan diminati oleh para konsumen IKEA. Hal ini dikarenakan pengalaman yang ditawarkan oleh IKEA sangat berkesan, menyenangkan dan juga meningkatkan kepuasan konsumen pada produk yang dirakit sendiri. Dari fenomena ini lahirlah sebuah efek baru dalam dunia ekonomi yang disebut dengan “IKEA Effect“. Bagaimana dampak dari IKEA Effect? IKEA Effect diperkenalkan melalui penelitian yang dilakukan oleh Michael I. Norton, Daniel Mochon, dan Dan Ariely dengan melakukan eksperimen kepada orang-orang untuk merakit kotak IKEA, melipat origami, dan membangun Lego. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebanyak 63% orang bersedia membayar lebih untuk merakit furnitur sendiri daripada membeli barang yang sudah selesai dirakit. Manfaat IKEA Effect pada brand masa kini Keberhasilan fenomena IKEA Effect dalam membuat konsumen untuk melakukan segalanya sendiri juga diikuti oleh beberapa perusahaan besar seperti PERTAMINA yang mulai menerapkan sistem self-service di beberapa outletnya sejak tahun 2013 lalu. Hal ini juga dapat terlihat pada restoran all you can eat shabu-shabu dan BBQ yang saat ini sedang menjamur dan mengharuskan konsumen untuk memasak makanan mereka sendiri. Dengan menerapkan konsep ini, konsumen akan merasa sangat puas dan senang, karena waktu dan tenaga mereka digunakan untuk lebih atau pengalaman yang belum pernah mereka lakukan.   Mau tahu lebih banyak soal brand audit atau mungkin soal branding? Langsung aja follow Instagram & TikTok kami untuk daily tips branding and business! Related post Efek IKEA dan Pengaruhnya untuk Bisnismu Memilih Rencana Implementasi Brand yang Sesuai Mau Bikin Logo? Yuk, Ketahui 7 Tipe Logo

Uncategorized

Memilih Rencana Implementasi Brand yang Sesuai

Memilih Rencana Implementasi Brand yang Sesuai December 11, 2025 3 min Branding merupakan nyawa dari sebuah bisnis atau usaha. Dengan melakukan branding, sebuah bisnis mampu dibedakan dari pesaingnya, mampu menciptakan loyalitas bagi para pelanggannya serta mampu memperkenalkan keunikan dan kepribadian dari merek itu sendiri. Namun, untuk mencapai hal tersebut diperlukan berbagai perencanaan yang matang agar strategi-strategi tersebut dapat diimplementasikan secara tepat sesuai dengan tujuan bisnis. Namun sebelum memasuki tahap brand implementation, ada baiknya untuk mendalami pemahaman terhadap branding, melakukan brand audit, dan menyusun brand strategy terlebih dahulu. Setelah strategi telah tersusun dengan komprehensif, simak penjelasan berikut dalam memulai brand implementation. Definisi dan Tujuan Brand Implementation Kalian para business owners atau yang bekerja di dunia marketing tentunya kerap mendengar kata brand implementation. Rencana brand implementation dibuat sebagai kelanjutan dari penerapan brand strategy yang telah disusun sebelumnya. Sebenarnya apa ya definisi nya? Brand implementation merupakan tindakan bagaimana sebuah brand menerapkan identitasnya secara konsisten dan menyampaikannya dengan tepat, baik secara verbal, visual, dan behavioral. Ini pun akan menentukan bagaimana tujuan dasar serta citra yang ingin dibangun oleh branding milik perusahaan tersebut dapat tersampaikan dengan jelas, sesuai, dan terukur. Maka dari itu, brand implementation selalu diawali dengan perencanaan dari tahapan yang ada pada brand strategy untuk memastikan brand tersebut melangkah ke arah yang lebih relevan dan sustainable kedepannya. Visual Lebih dari sekedar tampilan yang estetik, ini merupakan media bagi sebuah brand untuk mengkomunikasikan nilai dan kepribadiannya ke mata publik dalam bentuk visual. Untuk mempermudah cara menerapkan identitas sebuah brand secara konsisten, awali dengan perancangan moodboard terlebih dahulu. Nah, moodboard itu sendiri merupakan kolase ide yang mengkomunikasikan konsep dan ide visual dari sebuah brand. Hal ini mencakup:  Color Palette Photography Tone Layout Style Logo Style Font Style Interior Style Verbal Penampilan yang menarik akan meninggalkan kesan pertama yang baik bagi banyak orang. Namun, bagaimana cara sebuah brand bertutur kata pun tentunya krusial untuk diperhatikan lebih lanjut agar dapat menyesuaikan dengan target pasarnya. Nah, identitas dari sebuah brand harus bisa diimplementasikan dengan tepat dalam bentuk verbal, atau dapat disebut juga dengan tone of voice. Behavioral Langkah selanjutnya ini adalah penyempurnaan dari kedua elemen penting diatas. Ketika diimplementasikan secara behavioral ke mata publik, perilaku brand akan menyesuaikan dengan brand value yang dibentuk pada tahap penyusunan brand strategy, baik secara visual (brand personality) maupun secara verbal (tone of voice). Kedua elemen ini yang mendasari perilaku sebuah brand secara berkelanjutan dan akan tercermin di online presence nya agar dapat dapat menarik target pasar yang diinginkan. Layaknya manusia, masing-masing orang memiliki cara bertutur kata dan berbusana yang identik dengan nilai-nilai yang dipegang erat dalam dirinya. Sehingga, ini pun dapat menentukan bagaimana seseorang berperilaku sehari-harinya. Studi Kasus Salah satu contoh dari brand implementation yang bisa diambil sebagai studi kasus adalah ragam maskapai penerbangan yang ada di Indonesia. Kalau diperhatikan kembali, tiap maskapai penerbangan memiliki implementasi yang sangat identik dengan branding nya masing-masing. Mulai dari pemilihan warna interior pesawat, motif seragam yang dikenakan para awak kabin, pilihan in-flight menu makanan, gaya berkomunikasi di berbagai media platform, dan implementasi lainnya yang dapat memastikan pengalaman konsumen agar sesuai dan konsisten dengan value dalam branding nya.   Ketika melihat brand maskapai penerbangan kebanggaan negara yakni Garuda Indonesia, terdapat sentuhan nusantara yang ditampilkan secara konsisten melalui implementasi visual dan verbal nya. Dalam arti kata, dedikasi Garuda Indonesia dalam mengharumkan nama bangsa merupakan bentuk tindakan dan perilaku yang tercermin konsisten dari brand value nya. Salah satu contoh brand implementation maskapai ini ditekankan melalui konsep layanan “Garuda Indonesia Experience” yang menelusuri kelima panca indera. Dari pemilihan bahan khusus untuk interior pesawat, keharuman floral scent khas Indonesia yang tercium di sepanjang koridor kabin, alunan musik tradisional Indonesia yang menemani penumpang sepanjang penerbangan, pilihan in-flight meals yang menyediakan ragam sajian nusantara, sampai rancangan busana awak kabin serta ground staff lainnya. Seragam bermotif batik ini awal mulanya terinspirasi dari batik Parang Gondosuli. Konon, corak Parang Gondosuli ini dipercaya untuk memberikan “sinar kehidupan yang harum.” Siapa yang sangka, motif batik tertua karya leluhur asli Indonesia ini memiliki makna yang begitu mendalam. Bahkan, pemilihan warna tiap seragamnya memiliki color philosophy nya tersendiri loh!   Selain implementasi visual, Garuda Indonesia pun mengangkat nilai keramahtamahan yang terkenal sekali menjadi suatu perilaku dan budaya identik dari masyarakat Indonesia itu sendiri. Hal ini tercermin dalam implementasi verbal pada seluruh media komunikasi milik Garuda Indonesia, dari in-flight magazine, situs resmi, brosur, poster, media sosial, dan media tekstual lainnya. Dengan begitu, bisa dilihat ternyata tersimpan filosofi mendalam di balik implementasi brand Garuda Indonesia yang selaras dengan konsep dan nilai yang ingin disampaikan brand tersebut. Dapat disimpulkan bahwa brand ini secara konsisten menampilkan keindahan dari warisan budaya nusantara dan memperkenalkannya ke mata dunia melalui implementasi verbal dan visual yang menyempurnakan behavioral nya.   Ternyata memastikan konsistensi sebuah brand secara visual dan verbal sangat penting untuk diperhatikan pada saat melakukan brand implementation agar tetap selaras dengan nilai-nilai yang terbentuk dalam brand strategy nya. These two elements will determine how the brand acts and behaves in public. Ketika brand tersebut tidak konsisten dalam melakukan brand implementation, akankah target pasar melirik?   Mau tahu lebih banyak soal brand audit atau mungkin soal branding? Langsung aja follow Instagram & TikTok kami untuk daily tips branding and business! Related post Memilih Rencana Implementasi Brand yang Sesuai Mau Bikin Logo? Yuk, Ketahui 7 Tipe Logo Mengevaluasi Brand Stage untuk Memudahkan Proses Brand Activation

Uncategorized

Mau Bikin Logo? Yuk, Ketahui 7 Tipe Logo

Mau Bikin Logo? Yuk, Ketahui 7 Tipe Logo December 11, 2025 3 min Sebuah brand tentu memerlukan identitas agar brand tersebut mudah untuk dikenal oleh audiens. Salah satu komponen penting dalam identitas adalah sebuah logo yang merupakan identitas visual dan memiliki makna di balik keindahannya. Pada umumnya, sebuah logo digunakan oleh brand sebagai alat untuk menceritakan brand tersebut. Jika kamu melihat sebuah logo, terkadang setiap brand memiliki logo yang berbeda-beda. Ada brand yang hanya menggunakan gambar, ada yang hanya menggunakan tulisan, bahkan ada juga brand yang mengkombinasikan unsur gambar dan tulisan. Loh, kira-kira apa bedanya ya? Tenang, EGGHEAD punya jawabannya! Yuk, simak 7 tipe logo di bawah ini. 1. Wordmark Logo wordmarks adalah tipe logo yang hanya berisikan tulisan berupa nama sebuah brand secara lengkap tanpa disingkat. Tipe logo ini cocok buat brand yang memiliki nama unik ataupun brand baru yang ingin menampilkan dirinya di pasar. Kamu bisa menemukan tipe logo ini di beberapa logo brand besar seperti Google dan Coca-Cola maupun brand lokal seperti Gulu-gulu, Fotto, dan Mississippi Ladies.  2. Lettermarks Berbeda dengan logo wordmarks, tipe logo lettermarks hanya menggunakan beberapa huruf dan menggambarkan singkatan dari nama sebuah brand. Pada umumnya, tipe ini digunakan untuk sebuah brand yang memiliki nama panjang sehingga menggunakan logo lettermarks agar lebih minimalis dan mudah diucapkan, seperti pada logo brand Boga Group dan Weidenmann. 3. Mascots Tahukah kamu kedua anak laki-laki dan perempuan di dalam logo HokBen? Kedua anak tersebut, Taro dan Hanako, merupakan maskot dari restoran Jepang asal Indonesia tersebut. tipe logo maskot sangat cocok digunakan ketika sebuah brand ingin menyita perhatian audiens ataupun produk atau jasa yang ditawarkan ditujukan untuk anak-anak dan keluarga. Contoh lainnya dapat dilihat pada maskot dari brand Fuwa-Fuwa yang merepresentasikan fluffiness! 4. Pictorial Logo Memangnya ada ya brand yang logonya nggak masukin nama brandnya di dalam logo? Ada dong! Kalau kamu lihat logo Twitter, Apple, Nike, dan Passion Prive. Mereka adalah brand yang menggunakan logo pictorial yang hanya menggunakan sebuah bentuk atau gambar. Tipe logo ini dapat dianggap sulit karena kamu harus benar-benar fokus menentukan gambar atau bentuk yang dapat menggambarkan brand milikmu. 5. Abstract Berbeda dengan pictorial logo yang menggunakan bentuk konvensional, tipe logo abstrak mengasah kreativitas designers untuk membuat sebuah bentuk baru untuk mengkomunikasikan filosofi sebuah brand, contohnya logo brand Namastra. Oleh karena itu, tipe logo ini dapat membuat logo brand kamu dapat diingat oleh para audiens. 6. Emblem Pernah nggak kamu lihat sebuah logo yang berbentuk lencana ataupun lambang? Kalau pernah, logo tersebut masuk ke dalam tipe logo emblem. Tipe logo ini lebih cocok digunakan jika kamu memiliki sebuah brand di bidang otomotif, seperti logo milik Harley Davidson dan Noble Academy.  7. Combination Ternyata, kamu bisa menggunakan seluruh tipe logo di atas untuk membuat logo brand kamu atau yang dikenal dengan tipe logo kombinasi. Mengkombinasikan beberapa tipe logo sudah dilakukan oleh brand-brand besar, salah satunya adalah Kitamura yang mengkombinasikan logo pictorial dengan logo wordmarks. Tipe logo ini dapat membuat logo brand kamu lebih unik dan stand out, loh!   Wah, ternyata beragam sekali tipe logo yang bisa diterapkan dalam pembuatan logo sebuah brand, mulai dari penggunaan teks yang panjang maupun pendek, penggunaan gambar, atau bahkan kombinasi antara keduanya. Kira-kira, tipe logo mana nih yang tepat buat brand-mu?   Mau tahu lebih banyak soal brand audit atau mungkin soal branding? Langsung aja follow Instagram & TikTok kami untuk daily tips branding and business! Related post Mau Bikin Logo? Yuk, Ketahui 7 Tipe Logo Mengevaluasi Brand Stage untuk Memudahkan Proses Brand Activation Deretan Brand Ini Ternyata Asli Indonesia. Yuk, Ketahui Lebih Lanjut!

Uncategorized

Mengevaluasi Brand Stage untuk Memudahkan Proses Brand Activation

Mengevaluasi Brand Stage untuk Memudahkan Proses Brand Activation December 11, 2025 3 min Bayangkan awal mula dalam memulai bisnis, tingkat penjualan masih minim bahkan hanya segelintir target audiens yang aware akan brand tersebut. Melihat keadaan pasar sekarang di era serba digital yang semakin kompetitif pun menjadi suatu hambatan untuk brand dalam bersaing serta sepenuhnya stand out from the crowd. Nyatanya, ngga semua target audiens bisa dijangkau awareness nya secara mudah loh, apalagi langsung tertarik untuk membeli produk atau jasa dari sebuah brand yang baru saja dibangun tersebut. Secara garis besar, nyawa dari brand tersebut masih belum terasa kehadirannya di media massa dan pasar. Apa lah daya sebuah brand jika masih di tingkat awareness dan penjualan yang sangat minim? Nah, sebelum memasuki tahap brand activation, ada baiknya untuk mengawali dengan pemahaman terhadap branding itu sendiri dan melewati beberapa tahap branding lainnya terlebih dahulu. Mulai dari brand audit, brand strategy, sampai brand implementation. Setelah melalui tahapan-tahapan itu, simak yuk penjelasan dalam mengaktivasi sebuah brand. Apa saja yang perlu diketahui dalam proses Brand Activation? Proses ‘aktivasi’ sebuah brand merupakan langkah terakhir setelah melakukan tahap brand implementation. Brand activation ini adalah tahap penyempurna yang terutama bertujuan untuk: menghubungkan kehadiran brand dan target audiens secara efektif dan efisien, baik dalam segi marketing budget maupun brand message yang ingin disampaikan sejak awal terbentuk. Dengan ini, siapapun dapat memahami tujuan utama dan menentukan kemana brand yang dimilikinya tersebut akan melangkah. Mulailah dengan mengidentifikasi penempatan brand stage yang kini dimiliki suatu brand dari ilustrasi model marketing funnel. Berikut adalah beberapa pertanyaan esensial dalam 5 fase brand stage untuk diajukan selama proses brand activation. 1. Awareness: “Seberapa banyak konsumen yang baru mendengar, mulai mengetahui, atau bahkan sepenuhnya mengenal brand milik kalian?” 2. Interest: “Apa pendapat awal konsumen tentang produk atau layanan yang dipasarkan oleh brand milik kalian?” 3. Conversion: “Apakah konsumen telah tergerak untuk melakukan pembelian pertama sejak awal mula munculnya rasa ketertarikan itu? 4. Loyalty: “Seberapa banyak konsumen yang loyal untuk melakukan pembelian ulang terhadap produk atau layanan dari brand milik kalian?” 5. Advocate: “Apakah konsumen telah merekomendasikan brand milik kalian?” Masing-masing pertanyaan di atas akan memudahkan sebuah brand dalam mengidentifikasi penempatan brand stage nya saat ini. Sehingga, proses brand activation nya pun dapat dimulai dengan lebih terukur dan tepat sasaran. Untuk mencapai hasil yang diinginkan berdasarkan tujuan yang telah ditentukan dalam pengidentifikasian brand stage, proses brand activation bisa diilustrasikan secara sederhana seperti alur dibawah ini: Build Credibility Lay Down The Fact Convert Into Loyalty Turn The Loyalty Into Advocates Layaknya marketing strategy yang kerap ditemui saat ini, beberapa strategi brand activation dapat ditentukan dengan memilih media platform yang tak hanya cost-effective tapi juga sesuai dengan tujuan utama branding nya. – Printed (Newspaper, Tabloid, Magazine)– Digital Ads (Google Ads, Facebook Ads)– Social Media (TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, Twitter)– TVC & Radio, etc. Dengan mengetahui the current brand stage position, sebuah brand dapat meninjau ulang cara baru untuk menghubungkan sebuah brand dengan target audiens secara efektif dan efisien. Baik dari segi efficiency of budget maupun effectiveness of brand message delivery. When a deeper connection is built, nyawa sebuah brand akan lebih terasa kehadirannya melalui media platform manapun untuk target audiens yang tepat atau bahkan untuk mata publik secara lebih luas. So do your research, and activate your brand wisely! Related post Mengevaluasi Brand Stage untuk Memudahkan Proses Brand Activation Deretan Brand Ini Ternyata Asli Indonesia. Yuk, Ketahui Lebih Lanjut! Hello world!

Uncategorized

Deretan Brand Ini Ternyata Asli Indonesia. Yuk, Ketahui Lebih Lanjut!

Deretan Brand Ini Ternyata Asli Indonesia. Yuk, Ketahui Lebih Lanjut! December 11, 2025 3 min Fenomena foreign Branding ini sempat menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat diikuti dengan tagar #ikutandukunglokal di Twitter. Sebelum membahas lebih lanjut tentang fenomena ini, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan istilah Foreign Branding? What’s foreign branding? Based on this marketing journal yang bertajuk “Foreign Branding and Its Effects on Product Perceptions and Attitude,” Foreign Branding itu merupakan strategi pemberian nama brand dengan pengejaan atau pengucapaan bahasa asing yang bertujuan untuk membentuk persepsi terhadap brand dan mempengaruhi perilaku konsumen untuk brand tersebut. The foreign branding effects Faktanya, pemilihan nama bernuansa asing ini ternyata cukup banyak diterapkan oleh brand lokal di Indonesia. Adanya penerapan strategi ini besar dipengaruhi oleh stigma mayoritas masyarakat Indonesia yang masih menganggap bahwa brand luar memiliki kesan premium dan berkualitas lebih tinggi. Sebagai dampaknya, masyarakat tanah air kerap salah kaprah menganggap beberapa produk-produk lokal sebagai produk buatan luar. Padahal, produk-produk yang dimaksud, sebenarnya merupakan asli buatan Indonesia yang nggak kalah bagus dan mampu bersaing dengan brand yang sudah mendunia. Ini dia deretan brand lokal yang sering dikira buatan luar negeri: Wait, these guys are local-based? 1. Hoka Hoka Bento Biasa disingkat Hokben, penamaan brand ini diambil dari bahasa Jepang yang berarti “makanan hangat dalam kotak”. Sering dianggap sebagai chain restaurant yang asli berasal dari Jepang karena nuansa dan ciri khas hidangan bento box nya. Hingga saat ini, HokBen sudah memiliki lebih dari 170 gerai yang tersebar di pulau Jawa, Bali, dan Sumatera. 2. La Fonte Bagi para pecinta pasta, ternyata brand satu ini asli Indonesia. La Fonte memiliki penamaan khas Italia yang dipasarkan sejak tahun 1991. Selain menjadi favorit masyarakat Indonesia, La Fonte juga berhasil diekspor ke berbagai negara di wilayah Asia Pasifik, seperti Malaysia, Korea, Thailand, dan Hong Kong.  3. Equil Menghiasi meja makan restoran fine dining, hotel bintang lima, atau jamuan Istana Negara, Equil adalah brand air mineral alami asli Indonesia yang identik dengan kesan eksklusif dan premium. 4. Terry Palmer Walaupun memiliki nama yang terkesan kebarat-baratan, Terry Palmer merupakan produsen handuk dari Indonesia yang terbesar di Asia Tenggara. Brand ini telah berhasil memperluas sayapnya di pasar ekspor, seperti Jepang, Amerika, dan Eropa. Lama menyusuri dunia branding dan menjalin kerja sama dengan ragam klien, EGGHEAD melihat bahwa penerapan strategi Foreign Branding ini menunjukkan kesuksesan deretan brand nusantara dalam membentuk persepsi di benak konsumen serta membantu gaining consumer trust. Ini dia salah satu klien kami yang sering dianggap sebagai brand internasional, Xi Bo Ba!  Nah kira-kira brand lokal apa lagi nih yang sering dikira sebagai brand luar? Mau tahu lebih banyak soal branding? Langsung aja follow Instagram & TikTok kami untuk daily tips branding and business! Related post Deretan Brand Ini Ternyata Asli Indonesia. Yuk, Ketahui Lebih Lanjut! Hello world!

Scroll to Top